Rabu, 26 Oktober 2016

Dua Puluh Lima Menit Neraka Untuk Liverpool


Pertarungan sarat dengan tenai dan gengsi tinggi antara dua musuh bebuyutan yang diberi nama Red Monday(Senin Berdarah) antara Liverpool melawan Manchester United yang dipertandingkan di Stadion Anfield, Senin (17/10) berakhir antiklimaks. Berakhir dengan hasil tanpa gol yang mana babak pertama banyak yang menyebut sangat membosankan oleh para penggemar bola yang menuliskan ataupun memposting status media sosial. 

Liverpool yang menjadi tim dengan torehan gol tertinggi ketiga di Liga Primer Inggris setelah Manchester City dan Arsenal, tak bisa berbuat apa-apa untuk menembus lini pertahanan MU. 

Jose Mourinho, manajer Manchester United, di babak pertama menerapkan taktik bertahan yang mampu meredam kreativitas lini serang Liverpool yang dipimpin Philippe Coutinho. 

Bahkan, tak jarang terlihat enam pemain Manchester United berada di lini pertahanan sendiri dengan Marcus Rashford --seorang penyerang-- yang turun hingga ke garis belakang. 

Namun, Mourinho bukan sekadar menginstruksikan para pemainnya untuk menumpuk pemain di lini belakang, tapi melakukan pressing dan memaksa para pemain Liverpool berada pada posisi renggang satu sama lain. Hal ini menyulitkan mereka untuk melakukan umpan-umpan pendek cepat yang menjadi khas permainan The Reds di bawah Juergen Klopp. 

Selain itu, Mourinho pun meminta para pemain MU untuk melakukan tekel-tekel dan intersepsi bola sejak lini tengah (lihat grafik di bawah). Hal ini yang membuat suplai bola Liverpool ke lini depan terputus. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar