Kamis, 27 Oktober 2016

Vaksin Dengue Hadir di Indonesia, Begini Tanggapan Kemenkes

Vaksin Dengue Hadir di Indonesia, Begini Tanggapan Kemenkes 
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara resmi akhirnya memperbolehkan penggunaan vaksin dengue atau demam berdarah di Indonesia dikarenakan untuk mencegah demam berdarah yang menyumbang angka kematian yang cukup tinggi di Indonesia. Namun vaksin ini belum dapat digunakan oleh masyarakat secara luas.

Sebelum Indonesia, Meksiko menjadi negara pertama yang mendaftarkan Dengvaxia, nama dagang dari vaksin CYD Tetravalent Dengue Vaccine (CYD-TDV) buatan Sanofi Pasteur tersebut. 

Vaksin ini didaftarkan sebagai vaksin untuk pasien berusia 9-45 tahun dengan tingkat efektivitas mencapai 88,5 persen. Lantas apakah keberadaan vaksin ini juga akan membantu pasien DBD di Indonesia?

Menteri Kesehatan Nila Moeloek menyambut baik keberadaan vaksin bikinan Prancis ini. Hanya saja, pihaknya belum bisa memberikan kepastian terkait ketersediaannya secara luas.

"Saya belum bisa mengatakan lebih jauh karena harus itung-itung biaya, karena kan biayanya dari negara," kata Nila saat ditemui di Puskesmas Banguntapan 2 Bantul, Rabu (26/10/2016).

Hal senada juga disampaikan Joko Murdianto, Kepala Divisi Vaksin Sanofi Indonesia saat peluncuran Dengvaxia tersebut baru-baru ini.

Ia juga menyerahkan keputusan kepada pemerintah terkait persebaran vaksin tersebut, utamanya di rumah sakit pemerintah.

Di Indonesia, vaksin dengue ini disarankan untuk anak berusia 9-16 tahun, yaitu sebanyak tiga kali, dengan interval enam bulan.

"Vaksin ini efektif melawan empat jenis serotipe virus dengue, yang dapat membantu mengurangi beban penyakit tahunan di Indonesia," ujar Joko.

Sayangnya, karena harganya masih terbilang mahal, vaksin ini baru bisa diperoleh di rumah sakit swasta saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar